
Latar Belakang
Profesor selalu dianggap sebagai tokoh yang layak dipercaya dan dihormati. Gelar tersebut tidak hanya menandai kepakaran ilmiah, tetapi juga menjanjikan keteladanan dalam sikap, ucapan, dan tindakan. Di kelas, mahasiswa melihat profesor sebagai teladan yang akan membentuk masa depan karier dan karakter mereka. Namun, di tengah tekanan dunia akademik yang semakin kompetitif, rasa hormat ini mulai tergerus.
Fakta Penting
kampus saat ini berada dalam paradoks. Di satu sisi, mereka diharapkan mencapai produktivitas tinggi melalui publikasi, sitasi, dan peringkat internasional. Di sisi lain, mereka memiliki kewajiban moral untuk menjaga kejujuran ilmiah, merawat kebebasan akademik, dan membentuk karakter generasi muda. Ketika logika kuantifikasi mengalahkan etika, profesor sering terjebak dalam perlombaan angka, sehingga keteladanan sering diabaikan.
Dampak
Tanpa keteladanan, otoritas yang dimiliki profesor menjadi hampa makna. Mahasiswa, yang seharusnya belajar dari teladan profesor, justru kecewa karena nilai-nilai moral tidak ditampilkan dengan baik. Ini tidak hanya merusak citra akademik, tetapi juga mengancam masa depan generasi muda yang membutuhkan contoh nyata dari keteladanan.
Penutup
Profesor sebagai teladan publik harus kembali menjadi fokus dalam dunia akademik. Tanpa keteladanan, dunia ilmu tidak hanya kehilangan nilainya, tetapi juga gagal dalam tugasnya untuk membentuk karakter yang bermoral. Bagaimana kita bisa mengharapkan generasi muda yang berintegritas jika teladannya sendiri tidak menunjukkan contoh yang baik?












