Beberapa Siswa di SMA Negeri 1 Jawilan Diduga Dikeluarkan Secara Sepihak

Lobby SMA Negeri 1 Jawilan. (foto: Dede)

Serang Banten, wartaterkini.co.id Kepala Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Jawilan (SMANJA 1) yang berada di Kampung Kandang RT 08 RW 03 Desa/Kecamatan Jawilan,  Kabupaten Serang, Provinsi Banten, diduga sangat tidak bijaksana dengan mengambil keputusan. Hal itu terkait keputusan mengeluarkan peserta didik tanpa pemberitahuan kepada orang tua atau wali murid terlebih dahulu.

Hal itu dirasakan oleh M. Azi Triana, siswa yang sudah duduk pada Kelas XI sekolah tersebut yang kini sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti Ujian Semester II. Namun dirinya harus menerima kenyataan pahit di mana harus dikeluarkan dari sekolah tempatnya menuntut ilmu dengan alasan diduga terlibat tawuran.

Saat ditemui, M. Azi Triana, menjelaskan, dirinya hanya ingin menghadiri teman sekolah yang sedang berulang tahun. Namun pihak sekolah menyangka tawuran sehingga Kepala Sekolah memberhentikannya.

“Kami bukan mau tawuran Pak ,kami hanya mau menghadiri teman sekolah yang sedang berulang tahun di Balaraja,” jelasnya kepada awak media, Rabu (13/12/2023).

Nasib serupa dialami oleh Pandu, murid Kelas XII, dia menuturkan bahwa dirinya tidak ada niatan untuk melakukan tawuran. Saat kejadian tersebut dia bersama teman-teman hanya ingin merayakan ulang tahun teman sekolahnya, dengan menaiki mobil angkutan barang,

“Kami bukan mau tawuran Pak. Kami naik mobil dari Jawilan ke Balaraja. Pas mobil sampai flay over Balaraja, kami loncat turun semua. Nggak tahu apa masalahnya, pas kami turun kami dikejar segerombolan orang dari belakang,” tutur Pandu.

Lanjut Pandu, saat kejadian dia bersama teman-teman tidak melawan hanya merasa kaget, tiba-tiba ada yang menyerang dan beruntung aksi itu bisa diamankan oleh Polisi setempat.

“Mau gimana kami melawan kami kaget dan kami tidak ada niatan untuk tawuran Pak. Sumpah, itu pun bagus ada Bapak Polisi yang mengamankan kami,” ujarnya.

Sementara itu, Sri orangtua dari Pandu Suryana, sangat menyayangkan adanya keputusan yang dikeluarkan pihak sekolah. Yang mana tidak memanggil para wali murid yang bersangkutan terlebih dahulu.

“Seyogyanya pihak sekolah mengumpulkan kami dulu. Jangan kami dipanggil tiba-tiba saya disuruh tanda tangan pemberhentian anak saya,” keluh Sri.

Berdasarkan Keputusan Kepsek mengeluarkan siswa atas nama M. Azi Triana, orang tuanya, Ade Saputra pun berupaya menemui kepala sekolah, akan tetapi upaya komunikasi yang dibangun tetap tidak membuahkan hasil. Di mana Kepsek tetap bersikeras mengeluarkan anaknya tersebut dari sekolah SMA Negeri I Jawilan.

“Saya sudah bertemu Kepala Sekolah untuk bertanggungjawab memenuhi panggilan pihak sekolah untuk membicarakan anak saya. Kepala Sekolah mengatakan kepada kami, (mengeluarkan siswa) ini sudah keputusan sekolah Bapak, silakan carikan dia sekolah lain,” terang Ade Saputra.

Lebih lanjut para orang tua ini menuntut tanggungjawab dari Kepsek terhadap keputusan yang telah diambil. Mengingat siswa yang dikeluarkan harus tetap mendapatkan sekolah hingga menamatkan jenjang pendidikan.

“Saya sebagai orangtua dari siswa yang bersangkutan mengatakan kepala sekolah harus bertanggungjawab terhadap mental anak saya. Dan tahun 2023 anak saya harus naik dari SMA mengingat usia anak saya semakin bertambah,” tandas orang tua dari siswa M. Azi Triana ini.

Kemudian konfirmasi berlanjut kepada Kepala SMA Negeri 1 Jawilan, Satiri. Di ruang tamu sekolah, Satiri menjelaskan pihaknya memberikan sanksi ini sebagai pembelajaran bagi siswa yang lain agar tidak melakukan hal serupa.

“Kami memberikan sanksi itu untuk pembelajaran terhadap siswa-siswa lainnya dan kami pun akan memfasilitasi kepada anak didik agar bisa masuk di sekolah lain,” jelas Satiri.

Dari penjelasan tersebut, awak media masih mencoba mengkonfirmasi pihak pihak terkait. Namun hingga berita ini diterbitkan Dinas Pendidikan Provinsi Banten belum memberikan jawaban. (Dede/Red)

slot demo
akun gacor
shopeepay
slot gacor 2023