Pendiri Telegram kelahiran Rusia, Pavel Durov, menyatakan tidak akan tunduk pada tekanan otoritas Rusia. Ia menulis bahwa aplikasinya menjunjung tinggi kebebasan dan privasi, seberat apa pun tekanannya.
Sebelumnya, lembaga pengawas komunikasi Rusia mengatakan bahwa aplikasi pesan populer tersebut akan menghadapi pembatasan lebih lanjut karena gagal memperbaiki pelanggaran. Kemudian pengadilan Rusia menjatuhkan denda ke Telegram sekitar USD 142.400 karena menolak menghapus konten yang dianggap ekstremis.
Adapun para pengguna melaporkan akses yang lambat dan download yang tersendat, seiring langkah Rusia memperketat kendali atas saluran komunikasi utama bagi publik maupun pribadi di negara tersebut.
