Berita  

Kerja Tak Henti, Hidup Tak Pasti: Ketidakadilan di Balik Gaji yang Tak Pernah Cukup

Kerja Tak Henti, Hidup Tak Pasti: Ketidakadilan di Balik Gaji yang Tak Pernah Cukup
Kerja Tak Henti, Hidup Tak Pasti: Ketidakadilan di Balik Gaji yang Tak Pernah Cukup

Fajar baru saja hendak menyapa, namun aspal jalanan sudah lebih dulu panas oleh derap langkah yang sunyi tapi terburu-buru. Di balik jendela kereta yang sesak atau bus yang pengap, jutaan pekerja kita membawa bekal yang sama: sebuah narasi usang bahwa kerja keras adalah harga mati menuju sukses. Namun, bagi banyak orang, keyakinan itu perlahan berubah menjadi sebuah paradoks yang terasa pahit.

Tingkat kebutuhan hidup para pekerja di seluruh dunia memang dirasakan mengalami peningkatan. Hasil survey PwC’s Global Workforce Hopes and Fears tahun 2025 yang dirilis akhir Februari 2026 lalu menunjukkan bahwa 49 persen pekerja Indonesia sedang tercekik tekanan finansial yang hebat. Angka tersebut bukan sekedar deretan angka di laporan resmi, melainkan alarm sunyi bagi rapuhnya stabilitas sosial.

Hampir separuh tenaga kerja di Indonesia berada dalam kondisi dengan penghasilan bulanan yang hanya sekedar “numpang lewat” untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Inilah wajah muram fenomena working poor –sebuah kondisi ketika bekerja penuh waktu pun tidak bisa mencukupi kebutuhan seseorang. Meskipun seseorang bekerja penuh waktu; pendapatannya tetap berada di ambang batas kemiskinan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *